Pengertian Isim Dan Contohnya Dalam Ilmu Nahwu
Bahasaarab.ahmadalfajri.com – Pengertian Isim Dan Contohnya Dalam Ilmu Nahwu

Pada artikel kali ini, kami akan membahas tentang kalimat Isim dalam ilmu Nahwu.
Sebagaimana sudah kita pahami bahwa kalimat dalam ilmu Nahwu terbagi kepada tiga yaitu Isim, fi’il dan huruf.
Jika anda sedang mencari di penelusuran Google tentang pengertian Isim dan ciri-cirinya dalam ilmu Nahwu maka anda sudah berada pada postingan yang tepat.
Pengertian Isim
Defenisi Isim (الإِسْم) dalam ilmu nahwu yaitu:
الاِسْمُ هُوَ كَلِمَةٌ دَلَّت عَلَى مَعْنًى فِي نَفْسِهَا وَلَمْ تُقْتَرَنْ بِزَمَن وَضْعًا
Artinya, “isim adalah kata yang menunjukkan pada makna tersendiri dan tidak disertai dengan status waktu”.
Definisi tersebut memberikan setidaknya tiga poin utama yang harus dipahami agar benar dalam menentukan Isim.
Pertama, sebagaimana sudah kami Terangkan di atas bahwa isim merupakan kalimah (كَلِمَةٌ).
Sebab kalimah itu ada tiga, yaitu isim (الاِسْمُ), fi’il (الفِعلُ) dan haraf (الحَرْفُ).
Kedua, isim menunjukkan pada makna tersendiri.
Di sinilah titik perbedaan dengan huruf (الحَرْفُ), yang tidak memiliki makna tersendiri.
Ketiga, isim tidak disertai status waktu.
Point ketiga ini menjadi pembeda antara Isim dan fi’il.
Sebab fi’il haruslah diiringi dengan waktu tertentu.
Begitulah definisi Isim yang sudah populer di kalangan ulama nahwu.
Jika kita ibaratkan dalam tata bahasa Indonesia, maka Isim itu ibarat kata benda.
Tapi tidaklah sama 100% dengan kata benda dalam bahasa Indonesia.
Sebab bahasa Arab adalah bahasa yang memiliki kandungan pasal yang paling tinggi.
Untuk lebih memahami secara agak mendalam maka perhatikanlah penjelasan di bawah ini.
Contoh Isim
Adapun contoh isim misalnya,
كِتَابٌ
Dibaca: Kitaabun
Artinya: Buku
Kata kitaabun (كِتَابٌ) termasuk dalam kategori isim.
Sebab sudah sesuai dan terpenuhi dengan pengertian yang telah diuraikan di atas.
Pertama, kitaabun (كِتَابٌ) merupakan sebuah kalimah, atau sebuah kata.
Kedua, kitaabun (كِتَابٌ) sudah memiliki arti tersendiri, yaitu buku.
Berbeda dengan huruf yang pasti tidak ada arti tersendiri jika belum digabungkan dengan kalimat yang lain.
Contoh haraf, misalnya lam (ل). Lam (ل) belum punya arti, dan baru punya arti bila sudah menempel dengan kalimah lain.
Jika LAM sudah digabungkan dengan kata yang lain maka barulah LAM tersebut memiliki makna.
Contoh :
لزيد
Untuk Si Zaid.
Saat huruf lam sudah digabungkan dengan kata Zaid maka sudah ada makna bahwa sesuatu itu diberikan kepada si Zaid, bukan kepada Si Umar Atau lainnya.
Dan ketiga, kitaabun (كِتَابٌ) tidak memerlukan status waktu.
Tidak ada status waktu dalam makna buku.
Yang ada status waktu hanyalah pada fiil atau kata kerja.
Contohnya :
قرأت الكتاب
Saya sudah membaca buku.
Perbuatan kerja yaitu membaca adalah sangat berkaitan dengan waktu yaitu waktu yang lalu atau sudah dikerjakan.
Status waktu itu sendiri terdiri atas tiga yaitu : Telah (Madhi), Sedang (Hal) dan Akan (Mustaqbal)
Logikanya, tidaklah mungkin memasukkan status waktu pada buku seperti : telah buku, sedang buku, dan akan buku.
Sekali lagi kami ulangi bahwa status waktu hanya berlaku pada Fi’il.
Ciri-Ciri Isim
Berikut ini adalah beberapa tanda Isim.
Jika tanda-tanda ini ada pada sebuah kalimat maka jelaslah bahwa kalimat itu Isim, bukan Fi’il dan bukan Huruf.
- Adanya tanwin, contohnya:
رَجُلٌ
Kalimah رَجُلٌ merupakan isim, cirinya dibaca tanwin pada harakat akhirnya.
Setiap kalimah yang baris pada akhirnya dibaca ada dua garis (tanwin), baik tanwin fathah ( ـً ), kasrah ( ـٍ ) maupun dlommah ( ـٌ ), maka itu adalah isim.
- Adanya alif lam (ال), contohnya:
المَالِكُ
Kalimah المَالِكُ merupakan isim, cirinya diawali dengan alif lam (ال).
Sebab, Fi’il dan huruf tidak masuk pada keduanya Alif dan lam.
Didahului oleh haraf jar, contohnya:
عَلَى الأَرْضِ
Kalimah الأرض merupakan isim, cirinya di masuki haraf jar على.
Huruf Jar adalah sebuah huruf yang di depannya pastilah Isim.
Sebab, tugas huruf Jar adalah mengkasrahkan baris akhir pada kalimat setelahnya.
Dan harakat kasrah pada akhir adalah salah satu tanda yang lain terhadap Isim.
- Didahului oleh ya (يا) nida, yaitu ya (يا) yang berfugsi untuk menyeru,
contohnya:
يَا مُحَمَّدُ
Huruf Nida adalah huruf yang hanya masuk pada Isim.
- Digunakan sebagai rangkaian idlofat
atau semacam kata majemuk. Contohnya:
كَلَامُ اللَّهِ
Kalimah كَلَامُ dan kalimah اللَّهِ merupakan isim. Cirinya yaitu bisa dirangkaikan (idlofat).
Demikian saja artikel yang dapat kami bagikan tentang pengertian Isim dan tanda-tanda Isim. Semoga bermanfaat dan terima kasih.





2 Comments